Kamis, 12 Juni 2014

Tak ingat pulang

Lama aku pura-pura mati rasa
Belum berhasil rupanya
Di dalam kulitku, rindu memucat sampai tak seorang pun menyadari kehadirannya
Bahkan aku sendiri.
Punggungku bertanya dimana sayapnya
Kubilang dipinjam orang, tapi dia tak ingat pulang
Matanya tampak mempercayaiku
Padahal aku menipu
Biar aku kehilangan sayap, tapi aku masih punya dua yang menuntunku berjalan
Mereka selalu saling beriringan dalam melangkah
Aku yakin, suatu hari mereka tak hanya ajakku berjalan.
Mungkin berlari atau bahkan melompat
Asal aku tidak melangkah mundur untuk mencari sayap kesayangan punggungku

10-06-2014

Sabtu, 04 Januari 2014

Jatuh Cinta

Hatiku kembali mencair disirami hangatnya segelas cinta
Kembali berdegup kala mendengar ucapan yg manis rasanya
Kembali berdesir memandang mata pirusnya
Kembali berdetak dua kali lebih cepat ketika ia menatap mataku lekat
Kembali merasa terjaga ketika aku direngkuhnya hangat
Menjalani hari baru dengan sesosok orang baru yg membuatku bertanya, "ini rumah baru?"
Membuat aku membiarkan semuanya berjalan begitu saja, mengalir.... Seperti air di kanal
Membuat aku merasa mampu menemukan impianku, menemukan seseorang yg mampu merengkuh aku
mampu mendekap aku yg hanya setinggi dadanya saja
Membuat aku serasa aman terlindungi, hangat diselimuti
Jemarinya pun sanggup menutupi telapak tanganku hingga tak terlihat
Oh dunia.... Aku merasa terlahir kembali



Kubiarkan ia mengisi lembar baru di tiap-tiap hariku, menjemputku, menjagaku,  membuatku tertawa, membuatku menjerit, membuatku bertanya, membuat hatiku membuncah dengan warna-warni rasa
Dalam genggaman erat tangannya, ku harap dunia berhenti berputar
Biarkan aku menikmati hangatnya digenggam si pirus itu
Membangunkan hati yg selama ini dormansi
Menyusupkan rasa yg dulu pernah pergi entah kemana
Membingkai senja menjadi jingga cerah merona



Tat kala hatiku kembali berfungsi dengan baik karena aku......jatuh cinta lagi



Aku jatuh cinta
Iya! Aku jatuh cinta padamu hai pemuda bermata pirus!
Aku jatuh cinta pada seseorang yg ada di setiap lembaran novel yg aku baca.

Ya.... Pada pemuda yg hadir di anganku melalui tulisan karya seorang novelis.
Pemuda yg hanya ada dalam wujud kata-kata saja.

Non-aktif

Non-aktif?
Iya non-aktif. Ku rasa hatiku sudah non-aktif.
Pesisir hatiku tak lagi dihampiri ombak yang menderu. Kosong seperti pulau tak berpenduduk
Air pun enggan membasahi pasir-pasir pantaiku
Kering.... Seperti kemarau panjang tak berujung
Seperti mati rasaku
Tidak. Hidupku bukan cuma tentang kamu
Hidupku tentang aku dan banyak orang, bukan hanya kamu

Selasa, 30 Juli 2013

Tentang yang orang pandang sebelah mata


Dor! Hmm. Aneh? Iya. Saya bingung mau pembukaan ngomong apa-_-

Saya cuma ingin berbagi cerita aja sama kamu yang lagi baca postingan ini.
Terutama buat kamu, adek-adek tingkat yang mau UN sama ujian masuk PTN.

Kamu pernah ikut tes atau akan mengikuti tes? Atau seleksi?
Kamu dengar kabar soal tes itu susah, mematikan dan tidak berprikesiswaan?
Halah. Susah itu cuma wacana kok.
Kalo kamu mau meraih sesuatu yg besar itu ya harus dengan usaha yang besar juga.
Yang penting kamu usaha terus coba. Gagal belakangan.
Tapi harus diingat juga, kalo kamu siap menjadi pemenang dalam tes tersebut kamu juga harus siapkan mental jika ternyata kamu belum berhasil.
Siap menang siap kalah. Kalo menang jangan sombong, kalo kalah? Coba lagi!
Artinya kayak yg ada di balik tutup botol nu greentea. Anda belum beruntung.
And you must try again!
Menurut saya, sesuatu yang susah itu patut dicoba.
Jangan pernah bilang susah kalo kamu sendiri belum pernah nyoba. Cuma denger-denger doang mah isu. Kamu harus nyoba.
"Duh, mau banget masuk univ itu. Tapi gue kan ga pinter. Apalagi katanya soal ujian univ itu susah banget. Gue aja ulangan remed melulu, gimana kuliah disana? Impossible banget. Apalagi belum ada kakak kelas yang masuk univ itu. Jadi kayaknya sekolah gue juga belum dipandang sama univ itu. Hmmmm.... Tetep mau masuk univ itu juga? Ngimpi lo." 
Pikiran-pikiran skeptis bermunculan mengacaukan harapan-harapan saya masuk universitas impian.
Ditambah lagi cara orang memandang saya tanpa hormat. Rendah.
Rasanya sakit dianggap tidak berharga. Rasanya jatuh dianggap bodoh.
Rasanya..... Saya tidak bisa sehebat mereka. Mimpi saya tidak boleh lebih tinggi dari mereka.
Tanpa sadar saya membatasi harapan dengan menjadikan mereka 'ukuran' keberhasilan saya.
Saya tidak akan melebihi mereka, orang-orang yang menurut saya 'orang besar'.
Lalu saya simpan baik-baik mimpi saya untuk menjadi anggota keluarga kampus impian itu. Kampus beralmamater kuning yang berlokasi di Kota depok.

Kemudian saya kembali bermimpi untuk menjadi mahasiswi di salah satu Perguruan tinggi Negeri yang 'inshallah' saya mampu untuk berperang dengan soal Demi menjadi salah satu mahasiswinya. Kampus yang beratmosfir sejuk di Kota apel.
Saya cari informasi yang menunjang kelancaran untuk melewati tes masuk Perguruan tinggi tersebut.
Saya ikut seleksi masuk Perguruan tinggi yang dilaksanakan serempak se-Indonesia.
Sudah saya katakan tadi, impian saya masuk Perguruan tinggi Negeri impian yang beralmamater kuning itu saya simpan baik-baik.
Di ujian kali ini, saya menaruh kampus impian sebagai prioritas pilihan saya.
Skeptis sih. Tapi apa salahnya dicoba?
Saya tetap maju dengan pilihan pertama di Kota depok, pilihan ke dua dan ketiga di Kota malang.
Saya tak pernah menjadi kutu buku yang membaca dan membawa buku dimana-mana, kemana-mana. Saya bukan orang yang setiap malam rajin mengerjakan soal untuk mengasah keterampilan. Saya bukan orang yang berani bicara untuk sekedar mengutarakan pendapat di depan orang banyak. Saya memang bukan siapa-siapa. Saya cuma orang kecil yang tidak diharapkan kehadirannya dan mungkin tidak akan dicari atau dirindukan jika tiba-tiba menghilang. Saya bukan orang yang berpengaruh dalam lingkungan saya. Cuma 'nggeh..nggeh..' Tiap diatur orang.

Kenapa sih pikiran saya negatif melulu? Kan belum tentu juga apa yg buruk-buruk tadi benar. Kenapa ga mikir positifnya?
Saya hanya memperkecil kemungkinan untuk sakit ketika gagal atau jatuh.
Memikirkan semua kemungkinan terburuk agar saya berusaha untuk memperbaiki keadaan. Agar saya tidak berhenti berusaha hanya karena lelah.
Saya mempersiapkan diri jika suatu hari sesuatu yang saya perjuangkan tidak berhasil. Tapi bukan berarti usaha saya tidak dimaksimalkan.
Saya hanya berjaga-jaga.

Kemudian suatu hari saya diterima di Perguruan Tinggi Negeri di Kota malang. Saya menjerit keras dari kamar ketika membaca Pengumuman, berlari keluar kamar dan peluk cium mama.
Semua orang yang mengecilkan saya dulu, langsung terengah. Terkaget dan tidak percaya bahwa saya mampu lebih dari mereka.
Atau mereka masih mengecilkan saya karena jurusan yang saya ambil memang passing grade nya tidak tinggi.
Iya memang begitu adanya. Tapi apa saya salah? Saya sudah menelaah jauh-jauh hari, dan hasilnya sesuai minat saya.
Atau ada juga yg mengatakan ini adalah faktor keberuntungan. Memang saya akui faktor keberuntungan itu ada. Tapi tidak sepenuhnya tanpa usaha...

Tak lama kemudian saya berangkat ke Kota malang untuk registrasi ulang di universitas Brawijaya.

Memasuki hari terakhir registrasi, saya baca Pengumuman bahwa saya diterima di universitas yg pertama kali saya impikan itu. Universitas Indonesia.
Betapa saya terkejut lebih dari membaca Pengumuman hasil SBMPTN.
Saya sudah menyiapkan ini itu untuk tinggal di Kota malang. Tapi.... Kenyataan ini mengejutkan sekali.
Saya galau. Bingung harus pilih yg mana.
Keduanya pernah saya impikan.
Setelah saya pertimbangkan matang-matang, akhirnya saya ambil keputusan untuk mengambil kesempatan yg mungkin tidak akan datang 2 kali.
Saya akan beralmamater kuning, nanti :)

Berikutnya, jurusan saya yg dikecil-kecilkan.
Mau jadi apa sih masuk jurusan itu nanti? Kerjanya menjamin nggak?
Sudah saya bilang, bahwa saya memikirkan ini matang-matang.
Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya hingga rencana kerja inshaallah dengan baik.
Saya yakin, walaupun ini jurusan yg yah.... Seujung kuku buat kalian, atau yg pekerjaannya tidak menjanjikan.
Saya berpegang teguh pada "jika seseorang sudah bertemu minat dan bakatnya, sudah paham potensi diri dan cara belajarnya, dia akan melejit prestasinya"
Dan semoga saya termasuk dalam orang-orang itu.

Atau saya pernah dibilang "yg penting pake jaket kuning. Jurusan nggak menjanjikan mah belakangan"
Duh.... Saya dijatuhkan lagi.
Kenapa sih? Saya yakin akan mendapatkan manfaat yg sangat besar jika saya menjadi bagian dari civitas akademika keluarga besar universitas Indonesia.
Jurusannya pun sudah sesuai kemampuan dan keinginan saya.

Saya pernah berjanji pada diri saya sendiri "saya tidak akan membiarkan mereka mentertawakan saya terlalu lama"
Saya selalu terpicu oleh kalimat tersebut.

Tentang yg orang pandang sebelah mata... Semoga suatu saat nanti saya mampu menjelaskannya dengan hasil yg akan saya dapat. Suatu saat :)

Minggu, 14 Juli 2013

Pejuang salah jurusan

Awal masuk SMA, tujuan saya jelas mau masuk IPA.
Kenapa IPA? Karena saya mau jadi dokter. Dan saya suka sama pelajaran IPA. Terutama Biologi

Sebelum kelas ditentukan, kami disaring melalui test tertulis untuk menentukan siapa yang layak masuk kelas bilingual.
Apa itu kelas bilingual?
Kelas dua bahasa dan bisa dibilang unggulan lah ya.
Sebelumnya saya ingin sekali masuk kelas ini. Kelas yang menurut saya banyak kelebihannya.
Tapi waktu ada test saringan itu saya sama sekali nggak belajar. Sama sih, dari dulu juga kalo ada test apa-apa saya emang ga pernah belajar.
Tapi udah ga belajar, ngerjain nggak serius, pakek ngobrol sama temen segala. Arep dadi opo kowe nduk....-_-

Setelah ujian saringan itu diperiksa, dan diumumkan, saya gagal jadi anak biling. Yah... Belum rejeki mungkin. Lah? Kamu tuh ya, gimana mau dikasih rejeki? Kamu aja ga ada usahanya gitu. Udah ga belajar, ga serius pula ngerjainnya. Hih
*ngomong sama kaca*

Yaudah deh saya jadi anak regular. Saya tetap mensyukuri itu kok. Saya memang belum pantas untuk masuk kelas itu.
Tapi setidaknya walaupun saya belum mendapat kesempatan masuk kelas unggulan, saya bertahan dapat ranking unggulan buat 2 semester pertama di SMA.

Kesempatan masuk kelas bilingual hanya ada saat awal masuk sekolah.
Tapi diam-diam saya masih menyimpan harapan untuk menjadi seorang siswi di sana. Saya menulis harapan tadi di 'Dream Book' yg saya punya sejak lama.


Entahlah apa yg saya pikirkan. Saya tau harapan itu adalah impossible. But I found it I'm possible. Saya diberi jalan oleh Tuhan untuk menjadi bagian dalam kelas bilingual.
Saya sempet denger kalo kelas bilingual itu kelas yang mengerikan.
Kalau saya masuk kelas itu, saya bakal ga punya waktu banyak untuk main, belajarnya capek sampe sore, nilai yang harus dicapai pun tingginya lebih dari nilai yang harus dicapai anak regular, belum lagi ada tugas segambreng yang harus dikerjakan secara individu atau kelompok.
Saya pikir, dengan masuk ke kelas itu, saya ga akan ngerasain indahnya masa SMA.
Mama saya sangat menginginkan saya masuk kelas bilingual sejak dulu.
Sedangkan papa saya menyerahkan 100% keputusan kepada saya, asal saya bisa bertanggungjawab.
Saya mikir keras. Mempertaruhkan masa-masa yg seharusnya terindah menjadi masa-masa full belajar.
Saya lihat mata mama penuh harap, dan saya memutuskan untuk menjadi bagian dari kelas tersebut.

Awal masuk kelas IPA 1, saya merasa nyaman. Jauh lebih nyaman dari kelas sebelumnya. Teman yang baik, peduli, kreatif dan pintar tentunya.
Masuk kelas ini memang berat tanggungjawabnya.
Nilai harus lebih tinggi dari regular, harus lebih baik, harus bisa dijadikan contoh, harus berangkat pagi pulang sore, harus mengerjakan tugas yang banyak, kerja kelompok, belum lagi ikut bimbel diluar sekolah. Dan kami selalu dibully karena di 'anak emaskan'
Tapi saya salah... Saya tetap bisa merasakan masa-masa terindah saya di SMA.
Semester pertama, kelas 11 saya dikasih birthday surprise yg bikin bahagia gak kira-kira. Ada di postingan pertama dgn judul 16th.

Saya suka pelajaran IPA semuanya. Iya, saya mampu dan menikmati pelajaran-pelajaran yang kata orang mematikan itu.
Sampai masuk kelas 11, saya merasa tidak dapat mengikuti pelajaran IPA dengan baik. Saya berusaha memperhatikan guru, duduk di depan sambil pandangan fokus kedepan. Tapi apa? Saya masih merasa tidak bisa menerima dengan baik. Dan hampir tiap pelajaran IPA tak pernah terlepas dari remedial.
Saya stress. Saya berani bilang kalo saya stress karena mens cycle saya berubah. 1 bulan 2x. Abnormal.

Saya berusaha untuk terus belajar karena saya harus bisa lulus UN.
Hingga saya menempuh kelulusan itu dengan nilai yang hanya besar di pelajaran bahasa.

Kemudian 1 bulan kemudian saya mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri.
Atas potensi dan minat yang sudah saya telusur kemudian ketahui, saya memilih jurusan sastra.
Jika saya memilih sastra, saya harus mengerjakan tes dengan kemampuan IPS.
Saya belajar IPS dalam waktu +- 1 bulan dan hasilnya fantastik! Saya keterima di Perguruan Tinggi Negeri yang sejak lama saya impikan.
Dan disini saya simpulkan, bahwa ternyata saya salah jurusan.
3th belajar IPA = nilai UN kecil
1 bulan belajar IPS = masuk PTN impian :)

Sabtu, 06 Juli 2013

Teruntuk kamu yang telah lama menyimpan luka

Aku tau hatimu sedang sakit karena menyimpan luka lama yang begitu dahsyat membuat perasaanmu porak-poranda
Aku mengerti betapa kamu mengalah hanya demi seseorang yang kamu cinta
Aku paham mengapa kamu berlaku apatis terhadap cinta, sekarang.
Hatimu selalu menyimpan luka
Aku bisa merasakannya lewat caramu berbicara dan sorot mata yang menghujam lawan bicara.
Aku tau benar kamu merasa pahit
Tapi..... Apakah kamu ingin berlama-lama dengan rasa sakit itu? Hatimu tersiksa karena kamu terlalu lama menyimpan luka di dalamnya.
Tidakkah kamu ingin berbahagia seutuhnya? Kembali ke masa-masa terindah dalam hidupmu.
Bukan, bukan maksudku memutarbalikan waktu. Tapi berbahagia lagi seperti masa indahmu dulu.
Atau kau akan membiarkan luka itu tetap tinggal di hatimu?
Jika tidak, Hal yang perlu kamu lakukan adalah mengingat masa itu, dimana seseorang telah menaruh luka di hatimu.
Tapi tidak untuk berlama-lama.
Renungkanlah... Kemudian maafkan.
Karena rasa sakit itu hanya akan menyayat sejauh yang kita izinkan
Dan membencinya hanya akan membuat hidupmu semakin rumit.
Kamu akan mengurusi hidupnya, membenci yang dia suka, mencibir apa yang dia lakukan.
Tidakkah waktumu terlalu berharga untuk itu?
Seharusnya kamu bisa mendapatkan sesuatu yg membahagiakan. Tapi kamu malah sibuk mengurusi kebencian.
Sesungguhnya kamu seseorang yang sangat merugi.

Jika sesuatu yang kamu kejar tidak membawa ketenangan hidup, lepaskanlah.
Aku yakin, Tuhan akan memberimu sesuatu lebih dari apa yang kamu harapkan

Bersiaplah untuk membuka hari, menerima cinta yang banyak tanpa pusing memikirkan rasa benci.
Memang memaafkan itu rasanya berat, tapi hidupmu akan jauh lebih berat ketika kamu tidak mampu memaafkannya.
Karena kebahagiaan hanya datang kepada orang yang siap untuk berbahagia, bukan orang yang menghabiskan Sisa umurnya dengan mengeluhkan sakit karena menyimpan luka.
Percayalah, Tuhan maha adil :)


....Emptiness?

Is it emptiness???
Apa sih ini namanya? Rasanya aneh.
Sedih bukan, bahagia apalagi.
Saya tak merasakan apapun.
Merasa rindu pun tak mampu.
Tapi semuanya baik-baik saja..... Dan hey! Apa sih yg kamu keluhkan?
Bukankah semuanya baik? Uang jajanmu cukup kan? PR? Nggak ada. Beban remedial matematika? Nggak juga. Kelelahan pulang sore karna ada kerja kelompok? Bukan juga.
Lalu apaaa???

Karena waktumu terlalu banyak untuk sekedar berdiam diri atau sekedar leha-leha di rumah. Hal yang seharusnya tidak dipikirkan, tiba-tiba terbesit di angan karena waktu yang kamu punya terlalu banyak Hingga hal aneh-aneh itu terlalu leluasa berenang-renang di pikiranmu. 
Jangan, jangan pernah membiarkan mereka menggerayangi pikiranmu. Mereka hanya akan mengacau.
Lakukanlah sesuatu. Move your body.
Lakukan sebuah kegiatan yg bermanfaat.
Atur ulang jadwal harianmu, jangan izinkan pikiran yg aneh-aneh itu menghampirimu. Sibukkanlah dirimu dengan suatu rencana.
Kamu tidak akan pernah merasakan kosong ketika kamu berusaha menggapai suatu tujuan.
Karna dia hanya datang ketika kamu diam dan memberikan kesempatan untukknya mengganggu pikiranmu.
Jika hidupmu tanpa tujuan? Dia bersamamu.